Buat kalian yang ingin mempersiapkan diri untuk UTS semester genap ini ... silahkan di download dan dipelajar ...
Kisi-kisi UTS ...
selamat belajar :)
Dunia Matematika
Wadah saya untuk berbagi kegelisahan, kebahagiaan dan ide ...
Mengenai Saya
- Dunia Matematika
- Entahlah.... Belakangan ini saya bingung bagaimana cara mendeskripsikan diri saya sendiri ....
Wajib Baca
Kamis, 01 Maret 2012
Senin, 20 Februari 2012
Materi Esensial bab VII : Garis dan Sudut

Hai-hai ...
Apakah kalian sudah tau apa yang akan kita pelajari selama bab Garis dan Sudut ini ? Apa aja yang akan diujiakan di UKK, UH atau EMAN ?
Yuuuukkk dilihat dulu ...
Sila disimak :) ... jangan lupa persiapan buat ulangannya ya ... semangka !!!!!
Btw, bisakah kamu mengukur sudut pada gambar diatas ? Itulah gunung yang saya daki pas tahun baru waktu itu .... Namanya Gunung Guntur ... yang sy ceritain itu lho hehehehe... *teuteup narsis :p
Senin, 30 Januari 2012
Indikator bab Himpunan

Halo semua !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Saya mau curhat nih... ceritanya, beberapa hari lalu saya ditanyai oleh seorang siswa, dia bilang "Bu, saya boleh tau soal ulangan ga? kan saya mau les, nah guru les saya nanya, tipe soal gurumu bagaimana ?" ...
Hmm.. nah, sekarang saya bukan mau kasih soalnya... tapi mau kasih daftar indikator yang kita pelajari selama bab VII ini ... supaya, kalian-kalian yang mau persiapan buat ulangan, bisa menerka-nerka soalnya ...
Oiya, file nya pdf, jadi kudu di download ya ... klik aja ...
Selamat Belajar ...
Eh-eh ... saya lampirkan foto jagoan-jagoan saya jaman SD tuh ...:p
Senin, 23 Januari 2012
Guru Les dan Guru Sekolah
Untuk kali ini saya akan menulis tentang sosok guru. Sama-sama guru tetapi agak berbeda posisi. Perbedaan posisi ini, ujung-ujungnya akan membedakan fungsi keduanya. Kebetulan Saya melakoni keduanya .. Sehingga mengetahui beban keduanya hehehe...
Guru di sekolah memiliki beban untuk mencerdaskan ratusan anak dengan beragam keunikan. Ada anak yang cepat menangkap pelajaran, tapi ada juga yang lambat menangkap pelajaran. Beban utamanya adalah menyampaikan seluruh materi yang sudah menjadi kewajibannya, berdasarkan kurikulum yang berlaku di sekolah tempatnya mengajar.
Guru yang paling bisa menjembatani kemampuan ratusan anak, biasanya menjadi guru "idola" ... Bagaimana menemukan cara yang bisa diterima hampir semua anak, bagaimana menyajikan soal yang bisa dikerjakan hampir semua anak dan tentunya bagaimana menemukan cara untuk membentuk karakter anak...Guru yang berprinsip "ini cara gue ", harus pergi jauh-jauh dari profesi ini ...hehehe ...
Guru les memiliki beban lebih ringan dari segi jumlah siswa. Biasanya guru les hanya mengajar seorang siswa atau mentok-mentok 3 siswa dalam 1 grup ... Bebannya justru ada pada tujuan les itu sendiri. Anak yang mengikuti les biasanya karena dia tidak mampu mengikuti alur guru di sekolahnyad, dengan kata lain anak yang daya tangkapnya agak kurang. Memang ada kasus dimana seorang anak ikut les untuk mengejar peringkat di kelas, tapi itu sangat jarang ...
Guru yang bisa menemukan cara untuk meningkatkan daya tangkap anak kan menjadi guru les idola. Kalau daya tangkapnya sudah meningkat, nilainya pun akan meningkat... kalau sudah begini, orang tua akan sangat menghargai guru les ini hehehe... Sebaliknya, guru les yang tidak mampu menemukan cara untuk meningkatkan daya tangkap murid les nya harus pergi jauh-jauh dari profesi ini ... karena di kalangan guru les ada istilah "kemampuan lo tercermin dari tarif lo" hahahaha...Kemampuan disini, sangat erat kaitannya dengan jam terbang. Maklum saja, semakin tinggi jam tinggi seorang guru les, semakin peka juga dia menggunakan pendekatan tertentu untuk menangani seorang anak ...
Itulah celoteh saya sore ini.. saya tuliskan pada saat saya sedang bebas dari kedua profesi ini ... alias sedang menikmati sore hari tanpa rasa lelah dari sekolah dan menyambut malam tanpa ada janji bertemu murid les :p
Guru di sekolah memiliki beban untuk mencerdaskan ratusan anak dengan beragam keunikan. Ada anak yang cepat menangkap pelajaran, tapi ada juga yang lambat menangkap pelajaran. Beban utamanya adalah menyampaikan seluruh materi yang sudah menjadi kewajibannya, berdasarkan kurikulum yang berlaku di sekolah tempatnya mengajar.
Guru yang paling bisa menjembatani kemampuan ratusan anak, biasanya menjadi guru "idola" ... Bagaimana menemukan cara yang bisa diterima hampir semua anak, bagaimana menyajikan soal yang bisa dikerjakan hampir semua anak dan tentunya bagaimana menemukan cara untuk membentuk karakter anak...Guru yang berprinsip "ini cara gue ", harus pergi jauh-jauh dari profesi ini ...hehehe ...
Guru les memiliki beban lebih ringan dari segi jumlah siswa. Biasanya guru les hanya mengajar seorang siswa atau mentok-mentok 3 siswa dalam 1 grup ... Bebannya justru ada pada tujuan les itu sendiri. Anak yang mengikuti les biasanya karena dia tidak mampu mengikuti alur guru di sekolahnyad, dengan kata lain anak yang daya tangkapnya agak kurang. Memang ada kasus dimana seorang anak ikut les untuk mengejar peringkat di kelas, tapi itu sangat jarang ...
Guru yang bisa menemukan cara untuk meningkatkan daya tangkap anak kan menjadi guru les idola. Kalau daya tangkapnya sudah meningkat, nilainya pun akan meningkat... kalau sudah begini, orang tua akan sangat menghargai guru les ini hehehe... Sebaliknya, guru les yang tidak mampu menemukan cara untuk meningkatkan daya tangkap murid les nya harus pergi jauh-jauh dari profesi ini ... karena di kalangan guru les ada istilah "kemampuan lo tercermin dari tarif lo" hahahaha...Kemampuan disini, sangat erat kaitannya dengan jam terbang. Maklum saja, semakin tinggi jam tinggi seorang guru les, semakin peka juga dia menggunakan pendekatan tertentu untuk menangani seorang anak ...
Itulah celoteh saya sore ini.. saya tuliskan pada saat saya sedang bebas dari kedua profesi ini ... alias sedang menikmati sore hari tanpa rasa lelah dari sekolah dan menyambut malam tanpa ada janji bertemu murid les :p
Rabu, 04 Januari 2012
Here I am Lord ...

Sabtu pagi, 31 Desember 2011. Aku bersama 12 orang teman memulai perjalanan menuju puncak gunung Guntur, Garut, Jawa Barat. Kami bersiap-siap di depan mesjid As-Salam. Mulai membagi-bagi barang bawaan. Aku nggak suka merepotkan orang lain ketika ada acara bersama. Maka ketika temanku menawarkan bantuan untuk membawakan sebagian barangku, dengan cepat aku menolaknya. Aku membawa barang yang kubutuhkan, dan akan kubawa sampai ke puncak gunung itu.
Perjalanan dimulai dengan menaiki truk pasir. Perjalanan yang sungguh menyeramkan karena
guncangan di truk itu luar biasa. Setelah turun dari truk, kami mulai menyusuri lereng gunung, melewati curug kecil hingga akhirnya berhenti di bagian curug yang agak lebar. Kami sarapan
sekaligus makan siang disana dan sudah mulai merasa kelelahan. Ketika akan memulai pendakian gunung, seorang teman berkata “sekarang baru mulai … hehehe”. Kami langsung bertatap-tatapan. Berarti dari tadi blom ada apa-apanya??? Aaarrgggh…
guncangan di truk itu luar biasa. Setelah turun dari truk, kami mulai menyusuri lereng gunung, melewati curug kecil hingga akhirnya berhenti di bagian curug yang agak lebar. Kami sarapan
sekaligus makan siang disana dan sudah mulai merasa kelelahan. Ketika akan memulai pendakian gunung, seorang teman berkata “sekarang baru mulai … hehehe”. Kami langsung bertatap-tatapan. Berarti dari tadi blom ada apa-apanya??? Aaarrgggh…
Pertama kali melangkahkan kaki, aku masih memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Aku menghabiskan masa kecilku dibukit yang cukup tinggi, bahkan rumahku berada diatas bukit. Karena itu, menaiki bukit dan gunung tidak lagi menantang bagiku J . Aku sempat syok ketika seorang teman akhirnya meninggalkan sebagian barangnya karena tidak lagi kuat membawanya ke atas. Aku membantu membawakan 1 botol air 1,5 liter, tapi sebagian barangnya memang tetap ditinggalkan. Kulihat nafas temanku pun sudah mulai tidak beraturan. Aku berusaha menenangkan diri tapi tetap merasa panik. Bagaimana pun, mereka sudah terbiasa naik gunung.
Aku tau ada aturan tidak tertulis ketika naik gunung. Konon, kita tidak boleh beristirahat terlalu lama supaya kita tetap bisa melanjutkan perjalanan. Sayang sekali, hari itu aku melupakan aturan itu. Berawal dari posisi temanku yang sangat jauh dibawah. Akhirnya aku memutuskan untuk menunggunya. Saat itu kuperkirakan puncak tinggal 300 meter lagi. Aku menunggunya cukup lama, hingga aku sempat tertidur. Aku justru terbangun ketika dia memanggilku. Rupanya dia sudah berhasil menyusulku.
Aku mulai melangkahkan kaki. Entah kenapa, kakiku terasa berat sekali. Kira-kira 50 meter sebelum puncak, aku bahkan mati langkah hingga akhirnya terdiam. Otakku yang biasa berpikir cepat untuk mencari tumpuan, seakan berhenti bekerja. Beberapa kali aku salah langkah hingga nyaris merosot. Kacau … .
Empat dari dua belas temanku sudah sampai di puncak. Aku melihat mereka duduk dan mulai merasa iri. Aku mulai merasa putus asa dan akhirnya memilih merebahkan diri menatap ke langit.
Engkau yang menilai hatiku Tuhan … Inilah aku Tuhan … keangkuhanku sejak awal perjalanan ini mungkin telah membuatmu kesal. Maaf … Maaf karena telah meragukan kuasaMu. Maaf karena aku lupa mengandalkan kekuatanMu. Sekarang, puluhan meter dari puncak gunung ini, aku mengakui kesalahanku dan memohon ampunMu … Beri aku kekuatan untuk mencapai puncak itu, sehingga aku bisa menikmati indahnya ciptaanMu.
Aku menatap puncak, lalu ke bebatuan di sekitarku. Begitu cepatnya otakku berpikir hingga aku bisa menemukan pijakan yang tepat. Beberapa menit kemudian, aku sampai di puncak … Perjalanan sejak pukul 07.05 pagi, akhirnya berakhir di 17.00 sore. Terima kasih Tuhan ..
Senin, 26 Desember 2011
Natalku, Natalmu, Natal kita semua ...
Mari bicara tentang Natal …
Seorang teman bercerita bahwa di sebuah negara nun jauh disana, Natal adalah saat yang sangat ditunggu. Apapun agama mereka. Sangat ditunggu karena pada hari-hari menjelang Natal, salju turun begitu hebat sehingga aktivitas yang memungkinkan adalah aktivitas di dalam rumah. Pada saat itulah keluarga bisa berkumpul lebih lama dibanding hari-hari biasa … Yaaa… sebuah situasi yang sangat menyenangkan
Kendati di negeri kita ini tidak ada salju, situasi seperti itu biasanya tercipta. Situasi dimana tiap keluarga Kristiani berkumpul untuk merayakan Natal. Berangkat ke gereja bersama-sama lalu dilanjutkan makan-makan atau sekedar ngobrol di depan TV yang menyajikan film atau acara Natal lainnya. Ya, dengan nyaman situasi itu bisa diciptakan di negara Pancasila ini ...
Tahun ini saya merasa ada yang kurang, saya tidak merayakan Natal bersama orang tua. Mereka ada di Sumatera Utara, sementara saya dan adik saya ada di Pulau Jawa. Tapi, kami tetap merayakan Natal seperti biasanya. Ke gereja, makan-makan, jalan-jalan dan sebagainya. Begitulah Natal yang kami maknai. KehadiranNya ke dunia membawa sukacita bagi setiap keluarga, bukan hanya keluarga Nazareth.
Apa yang ada dibenak Anda ketika mengetahui bahwa seorang anak tidak menikmati Natalnya padahal keluarganya ada disekitarnya ? Mungkin bingung, mungkin sedih, mungkin juga marah. Itu pun yang saya rasakan setiap kali ada anak yang bercerita bahwa dia tidak merayakan Natal walaupun orang tuanya ada di kota yang sama, bahkan di rumah yang sama dengannya. Saya bingung dengan jalan pikiran orang tuaya, saya sedih mendengar cerita anaknya, dan saya marah dengan situasi seperti itu.
Bayangkan bahwa perayaan keluarga itu tidak selalu bisa kita rayakan. Kelak ketika anak itu sudah dewasa, ketika dia harus kuliah di luar kota atau luar negeri, ketika dia sudah berkeluarga, belum tentu dia bisa merayakan Natal bersama keluarganya. Saya tetap marah walaupun alasannya adalah bekerja dan dia bekerja untuk menghidupi anaknya. Mungkin bukan alasan bekerja itu yang membuat seorang anak begitu sedih atau marah. Andai ada komunikasi yang tepat, tentu dia tidak sedih dan kesal sehingga harus mengungkapkan perasaannya pada orang lain, termasuk gurunya. Ada sesuatu yang kurang beres disana … sesuatu yang seharusnya menjadi PR orang dewasa, bukan anak-anak …
Seorang teman bercerita bahwa di sebuah negara nun jauh disana, Natal adalah saat yang sangat ditunggu. Apapun agama mereka. Sangat ditunggu karena pada hari-hari menjelang Natal, salju turun begitu hebat sehingga aktivitas yang memungkinkan adalah aktivitas di dalam rumah. Pada saat itulah keluarga bisa berkumpul lebih lama dibanding hari-hari biasa … Yaaa… sebuah situasi yang sangat menyenangkan
Kendati di negeri kita ini tidak ada salju, situasi seperti itu biasanya tercipta. Situasi dimana tiap keluarga Kristiani berkumpul untuk merayakan Natal. Berangkat ke gereja bersama-sama lalu dilanjutkan makan-makan atau sekedar ngobrol di depan TV yang menyajikan film atau acara Natal lainnya. Ya, dengan nyaman situasi itu bisa diciptakan di negara Pancasila ini ...
Tahun ini saya merasa ada yang kurang, saya tidak merayakan Natal bersama orang tua. Mereka ada di Sumatera Utara, sementara saya dan adik saya ada di Pulau Jawa. Tapi, kami tetap merayakan Natal seperti biasanya. Ke gereja, makan-makan, jalan-jalan dan sebagainya. Begitulah Natal yang kami maknai. KehadiranNya ke dunia membawa sukacita bagi setiap keluarga, bukan hanya keluarga Nazareth.
Apa yang ada dibenak Anda ketika mengetahui bahwa seorang anak tidak menikmati Natalnya padahal keluarganya ada disekitarnya ? Mungkin bingung, mungkin sedih, mungkin juga marah. Itu pun yang saya rasakan setiap kali ada anak yang bercerita bahwa dia tidak merayakan Natal walaupun orang tuanya ada di kota yang sama, bahkan di rumah yang sama dengannya. Saya bingung dengan jalan pikiran orang tuaya, saya sedih mendengar cerita anaknya, dan saya marah dengan situasi seperti itu.
Bayangkan bahwa perayaan keluarga itu tidak selalu bisa kita rayakan. Kelak ketika anak itu sudah dewasa, ketika dia harus kuliah di luar kota atau luar negeri, ketika dia sudah berkeluarga, belum tentu dia bisa merayakan Natal bersama keluarganya. Saya tetap marah walaupun alasannya adalah bekerja dan dia bekerja untuk menghidupi anaknya. Mungkin bukan alasan bekerja itu yang membuat seorang anak begitu sedih atau marah. Andai ada komunikasi yang tepat, tentu dia tidak sedih dan kesal sehingga harus mengungkapkan perasaannya pada orang lain, termasuk gurunya. Ada sesuatu yang kurang beres disana … sesuatu yang seharusnya menjadi PR orang dewasa, bukan anak-anak …
Selasa, 13 Desember 2011
Langganan:
Entri (Atom)