Wajib Baca

Mengenai Saya

Foto Saya
Weblog ini asli diisi oleh Sarma Manurung

Senin, 24 November 2014

GURU TAK (LAGI) MAHA TAHU

 
Gambar hasil karya murid..
Tanpa bermaksud menggurui, kali ini lagi-lagi gue bakal nulis tentang keguruan hehehe…Ini terinspirasi dari obrolan gue dengan salah satu orang tua murid waktu gue bagiin rapot.
Kira-kira begini kalimat beliau “Saya sebenarnya menyayangkan ketika anak saya tidak dapat nilai sempurna sementara ada temannya yang dapat nilai sempurna. Sayangnya karena temannya itu diajari ayahnya yang dosen”. Waktu itu sih, gue ga bisa jelasin panjang-lebar, berhubung antrian orang tua di luar ruangan udah lumayan. Nah, berhubung sekarang lagi ada waktu, gue tulis deh penjelasan lengkap versi gue, versi gue lho. Siapa tau, orang tua itu punya waktu untuk mampir ke blog gue ini huahaha…teuteup…

Menurut gue, di jaman mod-ern ini, sumber belajar memang bukan cuma guru. Setelah gue teliti bertahun-tahun (percayalah…), sumber belajar atau sumber mendapat nilai bagus adalah : guru, buku teman, internet, anggota keluarga dan pengalaman pribadi. Gue jelasin satu per satu yaa…
·         Guru : lo pikir gue lebih pinter dari murid gue? Kaga !!! gue cuma kebetulan lahir duluan dari murid gue, jadi gue tau duluan. Istilahnya mah, gue menang tua doang.

Kamis, 09 Oktober 2014

ATURAN DAN ANJURAN

Pernah ngga sih lo galau di kerjaan lo? Kalo pernah, mungkin lo bisa ngerti apa yang gue rasain saat ini. Jangan lo pikir kerjaan jadi guru ngga pernah galau hehehe… Gue lagi galau tentang matematika, yaiyalah, gue kan guru matematika !!!!

Waktu lo sekolah, pernah kan nemuin soal-soal math yang ada tokohnya. Misalnya “Budi membeli 2 pulpen seharga Rp. 5.000…” atau “Cepot memiliki lahan seluas 3 hektar” dan seterusnya. Pernah kan terbesit dipikiran lo “kaya banget si Cepot ckckck”, iya kan? ngaku aja hahaha…Dulu gue gitu, sampe SMP gue sering sibuk mikirin “kok Tuti rugi? Kenapa Amat disuruh keliling lapangan? Dimana sih Semarang itu?”…Jadi, di saat temen-temen gue udah ngerjain soal, gue masih sibuk mikirin si Tuti, Amat sama Semarang wkwk…

Senin, 29 September 2014

Ngantri Dong

Pernah ngga sih lo dateng ke seminar-seminar atau training motivasi gitu? Trus pernah lihat pembicara ngasih ceramah tentang tradisi antri orang Indonesia VS orang luar negeri? Kalo pernah, mungkin lo pernah ngalamin yang gue alamin dan rasakan ini...

Gue selalu terganggu dengan para pembicara yang ngasih contoh tradisi ngantri di negeri kita sambil ngasih gambar orang antri di kereta atau busway di NEGARA KITA, lalu nampilih orang-orang bule yang lagi ngantri nunggu kereta di NEGARAnya. Kesel ngga sih lo ngelihatnya? Ngga ya?..ya udah, berarti gue doank...wkwk...

Jadi gini, gue kan guru matematika, saban hari ketemu angka dan bilangan...makanya, gue tuh jadi penuh perhitungan. Mulai dari perhitungan uang, waktu sampe saingan...
Selama belasan tahun, gue tuh jadi pelanggan angkot, bis, busway, ojek dan kereta. Tanpa bermaksud ngeledek orang-orang yang ngga bisa ngitung, ini analisa gue kalo lo mau berkendaraan...

Minggu, 07 September 2014

Sapi dan Pabrik

Sore itu aku menghabiskan waktu di teras rumah bersama bapak. Ngobrol ngalor ngidul tentang kebun sawit milik bapak dan sapi yang dia pelihara sejak beberapa bulan lalu. Sambil menikmati tuak dan gorengan aku menceritakan keadaanku di tanah rantau. Bapak mendengarkan dengan seksama dan tampak bangga dengan ceritaku. Tiba-tiba terdengar suara mama dari samping rumah. Begitulah mamaku, dia sering bercerita padahal belum berhadapan dengan lawan bicaranya.
“Si anu nangis-nangis… stress dia” kata mama memulai ceritanya.
Ternyata seseorang di desa tetangga baru saja kehilangan sapinya. Sapinya mati karena sakit. Keluarga itu begitu sedih dengan kejadian itu. Aku bingung mendengar cerita itu. Mengapa mereka harus sedemikian sedih?
“Kalo sapi bapak mati, bapak begitu juga?”
“Mungkin ngga”
“tuh kan, kenapa harus gitu coba?”
“Beda lah. Beda banget donk.”
Bapak mulai bercerita bahwa kehilangan sapi siang itu pastilah awal kemiskinan di keluarga itu. Tidak lama lagi, anak pemilik sapi itu akan menikah. Sapi itulah yang tadinya disiapkan untuk acara tersebut. Kalau sekarang sapi itu mati, berarti si pemilik harus mencari cara mendapatkan uang pengganti. Bisa jadi mereka akan berhutang pada bos berduit, bisa juga menggadaikan lahan sawit miliknya, bahkan bisa sampai menjual lahan milik mereka.
Sebuah keluarga yang akhirnya menjual lahannya, adalah keluarga yang segera memasuki masa-masa sulitnya. Hidup tanpa lahan berarti harus siap menjadi kuli di lahan orang, harus siap tidak memiliki lahan untuk beternak, dan harus siap menjadi miskin.
“memangnya, kalau  dia mau jual lahan, pasti ada yang mau beli pak?”, kutanya pada bapak.
“pastilah. Kalau ngga tetangganya, ya tokke. Tokke itu uangnya banyak, banyak banget. Dia bisa beli lahan kita semua. Nanti dia jual ke orang kota. Kalau udah besar, bakal jadi pabrik”, jawab bapak sambil menghabiskan tuaknya.
Pabrik. Benda itu muncul berkali-kali ketika aku mengikuti sebuah konferensi yang dihadiri puluhan orang muda. Diskusi tentang kemiskinan petani dan keberlangsungan ekologi membuat keberadaan pabrik menjadi obrolan yang menarik.
Orang mulai sibuk membicarakan isu lingkungan. Cuaca yang semakin tidak menentu, iklim yang mulai berubah hingga penyakit yang semakin mudah menyerang manusia. Sebagian kecil orang mulai melakukan banyak aksi untuk memperbaiki kerusakan alam, namun sebagian besar tidak peduli dengan apa yang terjadi pada alam. Terlalu banyak orang yang tetap merusak ciptaan Tuhan.
Mungkin memang seperti hukum ekonomi, tentang penawaran dan permintaan. Produsen akan tetap memproduksi selama permintaan masih ada. Pabrik akan terus memproduksi pakaian, selama manusia masih membutuhkan pakaian. Demikian juga kilang minyak akan terus menggali bumi selama manusia masih butuh bahan bakar untuk mobilnya, motornya, televisinya dan ponselnya.
Manusia mulai enggan menggunakan anggota tubuhnya untuk memenuhi kebutuhannya. Atas nama modernitas dan efektivitas, peran kaki dan tangan untuk bergerak semakin berkurang. Untuk apa membuang waktu sepuluh menit menuju halte, kalau masih ada sepeda motor? Untuk apa bersusah payah memakai kipas angin, kalau sudah ada penyejuk ruangan? Untuk apa pula repot memasak kalau sudah ada makanan instan? Toh, hal-hal yang lebih modern dan praktis bisa menaikkan gengsi seseorang.
Entah sejak kapan kata “gengsi” diperkenalkan. Beberapa tahun belakangan ini, kata itu begitu sering lalu-lalang di telingaku. Demi gengsi, orang bisa berganti-ganti ponsel tiap bulan, demi gengsi orang menghabiskan ratusan ribu untuk segelas kopi, bahkan demi gengsi orang rela bergaya hidup melarat asal punya mobil. Entah berapa juta manusia harus dikorbankan demi gengsi ini?
Ponsel bukan ciptaan Tuhan. Keberadaannya adalah hasil karya manusia, yang juga ciptaan Tuhan. Ponsel yang kita pegang mungkin sangat menarik, fitur-fiturnya menggoda dan harganya tidak terlalu mahal. Tapi pernahkah kita menggenggam ponsel dalam keadaan mati dan menatapnya dalam beberapa menit?
Ponsel yang kita pegang dibuat di pabrik, sebuah bangunan yang berdiri kokoh di atas tanah. Tanah tempat bangunan itu berdiri dibeli oleh seorang pebisnis dari orang lain. Orang lain itu dulunya adalah seorang petani yang mengolah tanah itu. Kini orang lain itu adalah pekerja di pabrik itu. Apa pun pekerjaan orang lain itu di pabrik itu, yang jelas dia adalah pekerja. Orang yang menafkahi keluarganya dengan menunggu tanggal gajian. Berapa orang yang bernasib sama dengan orang itu? Banyak, sebanyak barang yang harus diproduksi pabrik untuk memenuhi keinginan manusia. Keinginan manusia yang juga ciptaan Tuhan itu menjadi penyebab ciptaan Tuhan yang lain dikorbankan.
Apakah kita terlibat dalam memiskinkan petani dan merusak alam? Tentu. Oleh karena itulah ketika kita punya kesempatan untuk mencintai ciptaan Tuhan, mari kita gunakan kesempatan itu. Tunggulah sampai ponsel kita rusak, baru menggantinya. Dengan demikian kita pun membuat pabrik menunggu kita sebelum memproduksi ponsel baru, dengan demikian, pebisnis pun akan menunggu kita sebelum membeli tanah yang baru, dan dengan demikian tanah itu punya waktu lebih lama untuk bernafas sebelum beton menimpa dirinya dan membuat nafas kita sesak.



Senin, 01 September 2014

Mendamba Buku

Siang ini, hari ini, bulan ini, gue mau curhat... atau mau ngomel-ngomel, atau mau ngeluh, atau mau apa kek namanya... yang jelas, gue kudu ngungkapin apa yang gue rasain saat ini... moga-moga gue tetep hidup aman setelah gue nulis ini di blog pribadi gue...

Lo tau kerjaan gue apa? Guru !!!!... anda benar, gue guru... anggaplah gue guru abal-abal karena hari ini gue mau ngomel-ngomel sama angin...
Lo tau tugas gue ngapain ? Ngajar lah... ngajarin murid...ratusan murid..
Sebagai guru di pinggiran Jakarta, gue terbiasa ngajarin murid-murid yang membawa buku paket ke sekolah (untuk kasus buku  ini, gue selalu kalah sama guru-guru yang punya kemampuan ngajar walau anak2nya ngga bawa buku).

Sebagai guru di sekolah yang menerima dana BOS, saat ini gue lagi galau... galau parah... lo tau kenapa? karena buku dari pemerintah belom nyampe ke sekolah gue... serius, gue beneran serius...
Gue sebenernya sangat berterima kasih ke sekolah tempat gue ngajar, kenapa? karena sebenernya gue bisa meng-copy apa pun untuk keperluan ngajar... tapi, jauhhhhh di lubuk hati gue... gue sedih bingittttt... kenapa?... begini ceritanya...

Senin, 04 Agustus 2014

Lihatlah Lebih Dekat

Tulisan ini sebagai pengingat untuk diri sendiri, bahwa Tuhan pernah hadir dalam bentuk manusia-manusia bernama Lindu, Amanda, Bertha, Elda, Anne, Adrian, Wol dan Merna... yang menjadi teman di tempat yang jauh dari rumah sendiri.
Menuju Malaysia

Perjalanan ini seumpama "kecelakaan". Tadinya cuma mau transit di Kuala Lumpur, ternyata jadi main 4 hari disana. 
Mendengar nama "Malaysia" ngga pernah sekalipun saya berniat berkunjung kesana. Sering baca-baca artikel tentang wisata disana, dan saya tetap berpikir Indonesia lebih indah, jadi ngapain jauh-jauh kesana?. Apalagi kalo denger berita tentang klaim-mengklaim kesenian atau apa pun, bawaannya sebel, makanya ngga berniat kesana. Inilah cerita kunjungan dadakan 4 hari itu...yang mengubah pikiran2 itu..

Hari 1 :

Berangkat dari Bandara Cochin, India menuju Kuala Lumpur International Airport, Malaysia bersama 8 teman lainnya, 4 diantaranya warga negara Malaysia. Dari bandara menuju apartemen seorang temen bernama Lindu di daerah Selangor. Di perjalanan itulah saya pertama kali mendengar cerita tentang diskriminasi unik disana. Menurut cerita teman, di daerah itu ada semacam pembagian daerah-daerah... ada yang mayoritas Melayu, India atau Tionghoa. Karena kami tinggal di daerah yang mayoritasnya Tionghoa, aroma Idul Fitri tidak terlalu terasa, bahkan rumah-rumah makan tetap buka seperti biasa.
Malam hari, kami "dipaksa" mengunjungi Twin Tower. Sebenarnya saya bukan penikmat mall atau bangunan modern lainnya, tapi kalimat sakti teman saya membuat saya beranjak juga, katanya "twin tower itu hasil karya anak negerimu, kamu kunjungilah".

Hari itu diakhiri dengan tidur ala barak militer dan menyenangkan juga... 

Kamis, 22 Mei 2014

Liburan Dadakan Day 3 : Grand Palace dan Wat Po

Udah hari ke tiga ...
Di kota ini banyak banget kuil dan istana... Hari ini, pengen berkunjung ke Grand Palace dan Wat Po, kenapa? karena deketan mereka berdua...
Pertama nyampe, langsung ke Grand Palace..Cari-cari pintu masuk dan untungnya lolos dari aturan tata busana... you know lah, kalo ke kuil ngga boleh berpakaian terbuka, kalo terbuka akan dikasih semacam sarung untuk nutupin bagian pundak kebawah dan paha ke atas itu hehhe...
Tadinya, mau menyusuri semua tempat yang ada di Grand Palace itu, tapi pas lihat tiket masuknya yang 500 bath, langsung kicep wkwkwk...oiya, 500 bath itu = Rp. 200.000... Akhirnya, gue memilih untuk keliling di sekitar Grand Palace aj... ngga masuk ke museum, ngga masuk ke kuil, cuma di pelataran aja...