Tiap hari lihat berita tentang Sinabung, gunung yang meletus terus-terusan, udah berbulan-bulan. Puluhan ribu orang jadi pengungsi sampai berbulan-bulan, errrrr ...
Sebagai orang dari propinsi Sumatera Utara, kayaknya saya punya beban moral tentang kata "Sinabung". Sering kali ketemu orang dan nanya "kampungmu deket Sinabung ya ?". Hmm... sekedar info, saya belum pernah kesana dan kampung saya memang jauh dari sana. Mungkin butuh sehari perjalanan dari kampung saya, untuk sampai ke Sinabung... mungkin lho.. karena saya memang belum pernah kesana.
Pertengahan 2013, saya memang berencana ke gunung Sinabung.. waktu itu mikirnya, "ke gunung di pulau Jawa udah beberapa kali, masa ke gunung di sumatera belom pernah ?". Tapi keadaan berubah, rencananya batal. Karena sejak September, berita tentang Sinabung ada terus. Makin banyak pengungsi karena letusan gunung itu... Mulai deh mikir "penduduk lokal aja ngungsi, apalagi gue ???" Akhirnya saya memang tidak jadi kesana, kaki diarahkan ke danau Toba, danau terbesar di Indonesia :)...
Mengenai Saya
Selasa, 21 Januari 2014
Kamis, 09 Januari 2014
Posting Pertama di 2014
Akhirnya buka blog ini lagi... udah lamaaaaaa banget. Setahun !!!
Tahun lalu agak males nulis, banyak alasan, mulai dari koneksi internet sampai waktu yang gila-gilaan... Mudah-mudahan tahun ini bisa lebih produktif... ngumpulin cerita sehari-hari supaya bisa bertahan lebih lama.
Itu dulu, karena udah mau jam pulang wkwkwk..
Tahun lalu agak males nulis, banyak alasan, mulai dari koneksi internet sampai waktu yang gila-gilaan... Mudah-mudahan tahun ini bisa lebih produktif... ngumpulin cerita sehari-hari supaya bisa bertahan lebih lama.
Itu dulu, karena udah mau jam pulang wkwkwk..
Jumat, 13 Desember 2013
Wonderful Indonesia
Seorang teman punya beberapa tiket gratis untuk nonton acara tentang pariwisata Indonesia... kalo ngga salah judulnya "Apresiasi Wonderful Indonesia 2013". Saya ngga terlalu tertarik bahas acaranya, karena pasti sudah banyak media yang menulis tentang itu. Pokoknya disana hadir beberapa artis : Lea Simajuntak, David Naif, Dwiki Darmawan, Monita. Nongol juga pak Wagub Ahok waktu menandatangai kerja sama Kota Tua Jakarta dan Kota Tua Melaka. Tentu saja yang paling menarik buat saya adalah para artis lokal... para pemain Sasando Rote, para penari dari pulau Rote, para penyanyi lagu-lagu daerah dan lain-lain.
Selasa, 19 November 2013
Pub.Dok
![]() |
| Bersama 8 rekan kerja |
Berhubung kerjaan udah beres, saya mau cerita tentang tim saya yang udah hampir bubar. Lah ... ga pernah di bentuk kok udah mau bubar ??? wkwkwk...
Ceritanya, sekitar dua bulan lalu, saya menerima beberapa nama yang akan menjadi rekan kerja saya untuk sebuah proyek besar... sebesar beruang ... bisa jadi sebesar gedung ... gedung pencakar langit, TOWER !!!!
Seperti biasa, saya melakukan ritual-ritual untuk membentuk sebuah tim... ini penting lho .. penting banget... karena tim yang solid bisa membuat kerjaan lancar.
Seperti biasa juga, saya akan mulai mengamat-amati... cukup beberapa menit, udah teramati... yaiyalah, wong cuma 8 orang.!!!... Akhirnya, tim ini pun terbentuk... 9 orang, udah termasuk saya, itu kalo saya dianggep sih :p..
Tugas kami adalah mempublikasikan dan mendokumentasikan sebuah kegiatan, kegiatan besar, sebesar beruang ... bisa jadi sebesar gedung ... gedung pencakar langit, TOWER !!!! *kayaknya diulang nih..
Maka, mulailah design-design dibuat... mempertimbangkan banyak hal.. kadang ribut karena warna, kadang ribut karena tulisan, seringan sih ribut karena laptop lemot :))
Perlahan tapi pasti, anggota tim ini makin saling mengenal. Semakin mengetahui kekurangan dan kelebihan anggota lainnya. Ada yang lebih tua, lebih tinggi, lebih bagus kameranya, lebih bagus laptopnya, lebih kalem, dsb. Ada juga yang kurang sabaran, kurang kreatif, kurang waktu, dan kurang niat wkwkwk... Tapi, biarlah ... yang penting tiap orang saling menghargai dan menghormati, itu sudah cukup buat saya...
Untuk banyak hal, mereka sangat bisa saya andalkan. Saya cukup membagi jadwal, membagi posisi pekerjaan, membagi ocehan, jadi deh...rebessss...Tapi, ada hal tertentu juga yang memang harus saya maklumi, yaitu : mereka ga bisa bangung pagi !!!!!...Kalo udah tugas pagi, pasti saya deg-deg an... seringan sih, akhirnya saya kerjakan sendir aj. Tapi, gapapa... namanya juga kerja bareng anak-anak. Mereka masih muda, masih banyak waktu untuk bertobat... kalo saya kan udah uzur... harus jaga pahala :))..
Seingat saya, saya hanya pernah mengumpulkan mereka 1 kali. Hanya SATU kali itu mereka saling menatap-natap *cieeeee...apa sih.. tapi, saya tetap merasakan, bahwa mereka semakin dekat. Bukan hanya soal pekerjaan, tapi juga soal pertemanan. Mereka mulai saling pinjam-meminjam alat, bertukar-tukar pekerjaan, dll. Puncaknya adalah ketika seorang anggota kami kena musibah, kameranya berpindah tangan :( ... kami semua panik, bingung, prihatin dan perasaan sedih lainnya. Bahkan, koordinator kami sampai lupa mingkem. Ketika di penghujung acara ada ajakan untuk foto bareng seluruh panitia, kami ngga tertarik lagi. Kami sibuk mencurigai siapa pun, sibuk mendengar informasi yang muncul.
Itu dulu cerita kali ini. Ditulis supaya kenangannya bisa bertahan lebih lama. Supaya bisa belajar lebih lama.
Untuk ke 8 rekan saya... Senang bekerja bersama kalian :)
Itu dulu cerita kali ini. Ditulis supaya kenangannya bisa bertahan lebih lama. Supaya bisa belajar lebih lama.
Untuk ke 8 rekan saya... Senang bekerja bersama kalian :)
Senin, 23 September 2013
Naruto di Buniayu
“Ya Tuhan
pencipta semesta, temani aku selama perjalanan ini. Jika aku terpeleset hingga
terjatuh, bantulah aku untuk tetap tersadar. Jika kepalaku kejedot, bantulah
aku untuk tetap tersadar. Biarlah aku tetap sadar supaya bisa menyadari betapa
kecilnya aku di antara ciptaanmu yang besar…”
![]() |
| Belakang : Synthia, Cina. Depan : Sarma, Shinta, Monic, Priska |
Ini cerita tentang perjalanan
dan pelarian. Cerita tentang 6 perempuan yang tiba-tiba sudah berada di sebuah
goa di Sukabumi. Namanya Goa Buniayu, persisnya ada di daerah Nyalindung,
Sukabumi propinsi Jawa Barat. Kami berenam : Sarma, Monik, Priska, Shinta,
Synthia, dan Cina.
Kami memulai “petualangan”
sekitar pukul 10 pagi. Lengkap dengan kostum ala Naruto dan ditemani 2 orang
pemandu. Ketika berangkat, tentu kami sangat sumringah, maklum saja, kami anak
gunung, bukan anak gua hehehe…
Perjalanan di mulai dari mulut
gua, yang terletak kira-kira 200 meter dari pos. Kami harus turun secara
vertikal sedalam 18 meter dari mulut gua. Tampaknya hal biasa, tapi ternyata
tidak. Ketika kita harus memasuki sebuah tempat dimana kita tidak bisa berpijak
dan tidak bisa melihat apa-apa, ternyata sungguh mengerikan. Jantungku seolah
berhenti, ketika bergantungan di tali mungil itu. Untunglah kami semua tetap
waras ketika sampai di dalam gua, walaupun tetap mengelus-elus dada hahaha…
Kami mulai menyusuri gua,
melihat begitu banyak keajaiban. Stalagmit, stalagtit, pasir berkilau, sampai
sungai di dalam gua. Aku begitu kagum dengan isinya, bukan hanya karena
keindahan bentuk benda-benda itu, tapi juga karena proses terbentuknya
keindahan itu. Bayangkan, selama ribuan tahun, tetesan air membentuk
bongkahan-bongkahan karst itu.
![]() |
| kompor dengan bahan bakar air :) |
Di dalam gua itu, aku melihat
stalagtit berbentuk wortel, kanopi, ikan pesut, sampai stalagtit yang bisa
berbunyi seperti angklung. Kulihat juga pasir-pasir seperti Kristal yang
berbentuk istana. Kurasa, orang-orang India pernah ke gua ini, sehingga
terpikir untuk membangun Taj Mahal. Mungkin …
![]() |
| Didepan pasir kristal |
Seperti batu karang, ternyata
stalagtit dan stalagmite sangat kuat. Tanpa sepengetahuan pemandu, aku beberapa
kali memukul-mukul dinding-dinding dalam gua, hasilnya ? tanganku luka, lecet.
Aku pun sempat penasaran dengan kekuatan batu-batu di tanah, ternyata kuat.
Tidak pecah walaupun aku melompat-lompat di atasnya. Kagum dan bingung, mungkin
kata sifat yang tepat untuk menjelaskan perasaanku saat itu.
Setelah berjalan sekitar 2 jam,
kami mulai memasuki medan yang cukup menyebalkan. Lumpur mulai bertebaran
dimana-mana. Kemiringannya pun semakin tinggi. Mulai susah untuk berjalan.
Beberapa kali kami terpeleset. Tapi, kami masih bisa tertawa dan menganggap itu
rintangan biasa.
Selama perjalanan, aku lebih
sering berada persis dibelakang pemandu depan. Alasannya sederhana, karena aku
takut gelap dan hanya pemandu yang membawa headlamp. Suatu ketika, di areal
yang sudah lumayan sulit, aku duduk menunggu teman-teman lain. Kulihat, pak
pemandu itu melakukan ritual khusus, mungkin memohon pada Sang Pencipta agar
semuanya baik-baik saja. Gerakan tubuhnya, dan komat-kamit mulutnya
mengingatkanku ketika Bapakku hendak melewati sungai yang besar. Sejenak aku
bengong dan mulai berpikir bahwa kami akan melewati sesuatu yang sangat sulit.
Setelah kami semua berhasil
meraih tempat pak pemandu depan, kami istirahat sebentar. Setelah itu,
benar-benar melelahkan. Kami melewati sebuah celah sempit, terjal dan
dibawahnya sungai yang katanya dalam. Aku bersusah payah melewati celah itu.
Menurutku, itulah rintangan terberat yang kuhadapi selama perjalanan di gua
itu. Mendebarkan. Salah langkah, gawat …Cina bahkan mengatakan “itu serius ?
gue baru ngelewatin itu ?”. Sesaat
setelah berhasil melewati celah itu.
Jalur-jalur berikutnya semakin
sulit, semakin menyebalkan, semakin melelahkan dan semakin mendebarkan. Langkah
kami semakin pelan dan suara kami semakin hilang. Jalur dimana kami melewati
tanjakan berlumpur, tidak akan kulupakan.
Dalam setiap perjalanan, aku
hanya tidak ingin merepotkan orang lain. Aku tidak mampu menolong orang lain
yang kesusahan. Menurutku, aku memang tidak ditakdirkan untuk menolong rekan
seperjalananku. Sama seperti kejadian siang itu. Aku melihat beberapa kali
teman-temanku terjatuh dan berteriak karena tidak sanggup untuk melangkah. Tapi,
aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku hanya menunggu pemandu membantu mereka
satu-persatu.
Aku melihat kepanikan Cina
ketika melewati celah berbatu, melihat kepanikan Shinta ketika di lumpur, dan
melihat bagaimana tubuh Synthia di seret dengan kasar oleh pemandu karena tak
ada lagi cara untuk membantu dia. Dan aku, tidak bisa melakukan apa-apa. Aku
tidak kuat untuk menarik siapa pun. Menyedihkan. Dalam perjalanan itu, aku
hanya bisa melakukan dua hal. Berjalan di depan dan menunjukkan jalur mana yang
lebih nyaman dilalui serta membawakan sepatu boot teman-temanku ketika melewati
jalur berlumpur. Itu yang kubisa L.
Ketika di tanjakan berlumpur,
aku dan Cina duduk cukup lama. Menunggu teman-teman melewati lumpur sialan itu.
Susah sekali. Maju satu langkah, terpeleset tiga langkah. Dengan susah payah,
mengangkat kaki yang tertanam di lumpur. Kami melihat mereka begitu lelah, tapi
tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya menunggu. Ketika tiba giliran Priska, kami benar-benar
cemas. Lama sekali dia ada di dalam lumpur. Kakinya tidak bisa digerakkan.
Monik berusaha menggali lumpur dikakinya, tapi telapak kakinya seolah menempel
di lumpur. Aku begitu sedih ketika kudengar dia berteriak “gue mau nangis … gue
gak bisa. Gak tau harus ngapain. Gue mau nangis …”. Ah Tuhan, bukan untuk itu
kami datang. Kuarahkan pandanganku ke
tempat lain untuk menenangkan diri.
Menurut perkiraanku, kami butuh
40 menit lebih untuk melewati lumpur itu. Setelah semuanya bebas, rasanya
begitu lega. Bersiap untuk rintangan berikutnya. Lumpur terus ada sampai di
pintu gua. Rintangan terakhir yang harus kami lewati adalah tangga bambu. Harus
kami panjat bersama dengan lumpur berat di tubuh dan rasa cemas kalau-kalau
tangganya roboh. Di tangga inilah, kulihat teman-teman di seret. Kurasa itu
sakit.
Menunggu teman-teman.
Kubisikkan pada Cina “gue yakin lihat cahaya”. Dengan ngos-ngosan dia ikut
melihat ke arah yang kutunjuk. Tampaknya dia tidak percaha hehehe. Aku melangkah
beberapa tapak lagi, dan kulihat ada warna favoritku, hijau !!!!... Aku yakin
itu pohon. Kukatakan pada Cina supaya dia bergegas, karena aku sudah melihat
pohon. Walaupun berada puluhan meter di atas kepalaku, aku yakin itu pohon.
Kusampaikan kabar baik itu ke mereka semua. Berteriak-teriak. Lupa kalau di gua
tidak boleh gaduh !
Seperti cerita-cerita
petualangan, semua akan indah pada waktunya. Semua akan bahagia setelah
petualangan selesai. Begitulah perasaan kami. Begitu bahagia ketika akhirnya berkumpul
di atas tanah dan melihat langit. Setelah empat jam lebih berada dalam
kegelapan, akhirnya bisa melihat terang lagi. Gembira !!!!
![]() |
| Gembira !!! |
Sabtu, 10 Agustus 2013
Libur Lebaran : Pulau Harapan
![]() |
| Pulau Harapan dari dermaga menuju pulau |
![]() |
| mari bermain |
| Berenang. Girang !!! |
![]() |
| Naik kapal sampai keriting dan hitam |
Aktivitas yang tak kalah menyenangkan adalah main pasir. Lempar-lemparan pasir, bentuk bangunan, guling-guling di pasir, sampai berenang di pasir... asekkkkkk...
![]() |
| berenang sampai matahari tenggelam :) |
![]() |
| main pasir.... bahagia :) |
Sekian dulu isi cerita liburan kali ini... sampai jumpa di cerita liburan berikutnya :)
![]() |
| cari tempat lain..Indonesia luas !!!! |
Selasa, 06 Agustus 2013
Iya, Saya Nakal ..
![]() |
| Bahkan di depan makam, kami bisa berdebat :D |
Aku mengenalnya tahun 2008. Ketika melihatnya, aku langsung teringat
bapakku. Hmmm… berkulit putih, perut besar, jalannya pelan, pakaiannyan santai
dan tatapannya sayu. Namun, ketika bicara dengannya, gambaran tentang bapakku
langsung menghilang, berganti dengan dosenku semasa kuliah. Hmm… kami terlalu
sering tidak sependapat, atau butuh waktu untuk sependapat.
Sama-sama bekerja di bidang pendidikan, membuat kami sering berdiskusi
tentang hal-hal beraroma pendidikan. Kusimak baik-baik apa yang disampaikannya
tentang cara menangani siswa, sering kucatat, sebagai referensi dari yang sudah
senior. Dia juga menyimak apa yang kusampaikan tentang cara-cara menangani
siswa, tapi biasanya beliau akan tertawa lepas, tampaknya tidak habis pikir
dengan apa yang kulakukan… hahaha.
Dalam komunitas kami, beliau kami anggap sebagai bapak. Kubayangkan
betapa pusingnya beliau, menghadapi puluhan anak yang sudah dewasa dengan
berbagai karakter. Ibarat keluarga, mungkin aku adalah si anak nakal. Bertindak
sesuka hati, berbicara sesuka hati dan marah sesuka hati. Dihadapannya, aku
tidak bisa menjadi anak baik yang bilang “iya Mo …” dengan ikhlas. Aku selalu
mempertanyakan apa yang beliau katakan, baik terucap maupun tidak.
Didepan anak-anaknya yang lain, terutama yang lebih muda dariku,
kugunakan prinsip “Anda bapaknya, aku anaknya, aku nurut, supaya enak dilihat”.
Tapi dibalik itu, semua tak semudah yang dilihat. Seringkali aku butuh waktu
berjam-jam untuk akhirnya ikhlas melakukan apa yang harus kulakukan. Beliau
hidup dari ribuan buku yang jelas-jelas berbeda dengan seleraku. Orang bilang,
apa yang dibaca sangat mempengaruhi kepribadian seseorang. Mungkin itulah yang
membuat kami sering tidak sepaham. Alkitab, mungkin satu-satunya buku yang
sama-sama kami baca.
Sejak pertemuan pertama kami, beliau sudah mewajibkan semua anak-anaknya
untuk membaca Alkitab. Seingatku, beliau pernah mengatakan “cara terbaik untuk
mengenal Yesus adalah dengan membaca Injil”. Ucapan itulah yang kuterima sampai
sekarang, tanpa mendebat !!!
Anak-anaknya yang lain mungkin punya kesan lain tentang beliau. Tetapi buatku,
bagaimana beliau “memaksa” kami untuk mengenal Yesus dengan cara yang lebih
baik adalah hadiah yang sangat indah. Sesuatu yang tidak kudapat dari bapak
kandungku. Bertahun-tahun mengenal beliau, bertahun-tahun pula aku semakin
mengenal Yesus.
Hari ini, dihari ulang tahunnya yang kesekian, kuharap berkat tetap
melimpah baginya. Semoga beliau tetap sehat dan setia dalam panggilannya.
*Selamat ulang tahun Romo … semoga panjang umur, supaya sempat membaptis
anak saya hehehe…*
Langganan:
Postingan (Atom)











