Oi...oi...oi... tak terasa, beberapa hari lagi dah ULUM...perjuangan berhadapan dengan Himpunan dan Geometri bakal berakhir,,,hore !!!!!! Nah, supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya kudu ngulang taon depan, makanya ayo deh kita-kita pada belajar... Supaya belajarnya pada fokus, nih saya sertakan Kisi-kisinya.. Klik disini ya : Kisi-kisi Ulangan Umum Semester Genap
Jangan pada lupa belajar ya,,,, ingat, jadwal ULUM Math adalah
Helow semuanya,,,,mohon maaf nih...Saya terpaksa ngumumin ulangan Bab IX... Jadi jadwalnya adalah : 7A : Jumat, 7 Mei 2010 jam ke 7-8 7B : JUmat, 7 Mei 2010 jam ke 4-5 7C : Jumat, 7 Mei 2010 jam ke 2-3
Persiapkan dengan serius yaaaaa.... Nah, buat kamu yang mau persiapan dengan serius, nih saya lampirkan soal ulangan tahun lalu... klik disini ya :
Nama aslinya Andry Widodo. Saya lebih suka memanggilnya Dodo. Saat ini masih ada di kelas VII. Ada hal unik yang saya temukan pada bocah perantauan Aceh ini. Dodo mahir berbahasa mandarin. Hal ini sudah terbukti dari kemampuannya bercerita dalam bahasa mandarin. Dalam kesehariannya pun demikian. Jika saya menanyakan bahasa mandarin dari kata tertentu, maka dia akan cepat menjawabnya. Secepat kilat. Karena saya tidak mengerti bahasa mandarin, maka saya percaya saja..hahaha.
Selain kemampuannya berbahasa mandarin, Dodo punya kebiasaan unik lainnya, yakni gerak-geriknya. Kalau belum mengenalnya, cara paling mudah untuk membayangkannya adalah dengan menganggapnya sebagai salah satu tokoh di film-film asal Hongkong, seperti pada kejadian berikut ini.
Dikelas, saya cukup sering ”mengganggu” anak-anak, termasuk Dodo tentunya. Suatu ketika saya memberi latihan soal di kelas. Saya berkeliling kelas sementara anak-anak sedang mengerjakan. Ketika mendekati meja Dodo, tiba-tiba saya dapat ide. “Dodo !!!”, saya berteriak sambil memegang pundaknya dari belakang.
Tanpa banyak pikir, Dodo langsung berteriak juga “hayyyyaaaa”, kata Dodo sambil menaruh tangan kirinya di dahi dan tangan kanannya di dada. Teman-temannya langsung tentu saja tertawa melihat tingkah Dodo yang seperti pemain kungfu. Saya pun tidak dapat menahan tawa karena seolah sedang melihat Jackie Chan.
Setiap kali masuk atau keluar dari kelas, anak-anak akan memberi salam kepada gurunya. Khusus untuk kelas yang dihuni Dodo, anak-anak lebih sering menggunakan bahasa mandarin untuk memberi salam. Dengan bahasa yang tidak saya pahami, saya pun membalas salam mereka dengan bahasa yang tampaknya tidak mereka pahami, yakni bahasa Jawa atau Batak.
Namun suatu ketika saya pun mulai tertantang untuk membalas sapaan itu. Akhirnya saya pun berguru pada Dodo. Saya bertanya tentang jawaban-jawaban yang harus saya berikan jika ada yang menggunakan bahasa mandarin untuk menyapa. ”Ajari saya yang standar aja lah Do” “Hmmm....ni hao ? itu apa kabar, sie-sie itu terima kasih, cay cien itu sampai jumpa, trus...” ”Cukup...cukup...itu dulu. Yang lainnya nanti-nanti aja. Keburu lupa nih”
Itulah penggalan kursus saya pada Dodo di meja piket. Ketika tiba saatnya untuk praktek di kelas VIIB, saya agak deg-deg an, maklumlah disitu ada Dodo yang menurut saya adalah pakar bahasa mandarin. Pada saat jam pelajaran berakhir anak-anak pun bersiap-siap. ”stand up please, greeting”, kata ketua kelas. “sie-sie lao shi, cay cien !”, seluruh siswa menyahut. “ni hao !”, jawab saya penuh keyakinan. ”Hahahaha,,,,waduh Bu ! salah itu...”, kata Dodo.
Karena Dodo tertawa dengan gaya yang khas, seluruh anak pun jadi ikut tertawa. Maka jadilah praktek perdana saya dinyatakan gagal.
Itulah Dodo. Anak yang tetap mampu mempertahankan tradisi dalam berbahasa. Melihat kemampuan Dodo itu, terkadang saya menjadi malu. Bayangkan saja, anak sekecil itu tetap bisa menggunakan bahasa asalnya dengan fasih kendati dia juga harus fasih berbahasa Indonesia dan Inggris. Bukan hanya memahami bahasa, tampaknya Dodo juga memahami tradisi-tradisi yang ada dalam keluarga Tionghoa. Anak-anak seperti Dodolah yang mungkin menjadi penjaga tradisi luhur bangsa ini nantinya. Tradisi yang harus tetap dipertahankan kendati faktor-faktor modern mulai mengusiknya. Sie-sie Do...
Saya sudah lupa nama aslinya. Saya mengenal dia tahun 2004, waktu itu dia kelas VII di SMP Penabur Bandung. Dia adalah murid les saya. Kalau dihitung-hitung berarti sekarang dia sudah kuliah. Mungkin juga dia sudah melupakan saya. Tapi bagi saya, dia begitu sulit untuk dilupakan.
Novia tinggal di rumah tantenya (dia memanggilnya i-i Fang). Maminya tinggal di Jakarta. Dia sering mengatakan “kalo kakak lagi ke Jakarta, main aja ke apartemen Laguna. Mami saya tinggal disitu, dia pasti seneng kalo kakak kesana”. Papinya ada di ”surga”. Suatu jawaban yang keluar dari mulutnya setiap kali ada orang yang bertanya dimana Papinya berada.
Dirumahnya, Novia sehari-hari hidup sendiri. Rumah yang luar biasa besar itu lebih sering dihuni oleh 2 pembantu, 1 supir, 1 nenek yang sudah susah bergerak, Novia, Tante-Om nya yang suka bepergian dan kedua sahabatnya. Kedua sahabatnya itu adalah dua ekor anjing.
Novia rajin sekali bercerita tentang kedua sahabatnya itu. Menurutnya, kedua anjing itulah yang sering menjadi tempat curhatnya. Tiap kali dia curhat, mereka akan menggonggong seolah-olah mengerti perasaannya. Bahkan dia mengaku kalau salah satu anjing itu kelak akan jadi pacarnya. Wah, benar-benar pendapat yang aneh.
Kami belajar setiap hari senin hingga jumat pada pukul 16.00-17.00. Waktu yang cukup singkat untuk agenda kami yang padat. Ya, agenda kami memang sangat padat. Setiap hari kami harus mengulang pelajaran yang ada di sekolah karena memang untuk itulah saya dibayar, kami juga harus bercerita karena dengan begitulah dia senang belajar, dan yang terakhir kami juga harus bermain basket atau ”smack-down” karena kami berdua memang suka bermain.
Selama lima bulan saya menjadi guru lesnya. Banyak hal kami lakukan bersama-sama. Banyak kenangan indah yang masih bisa saya ingat dengan jelas. Tapi, kejadian berikutlah yang benar-benar akan sulit saya lupakan. Novia bertanya ”kapan kakak akan menikah ?” ”Hmmm, mungkin kalau saya sudah 25 tahun baru saya mikirin itu.” ”Kenapa begitu ? Mamiku dulu ga gitu...” ”Yaa, orang kan beda-beda...” “Kakak akan punya anak ?” “Iya donk. Kalau ga mau punya anak, saya ga akan nikah lah...jadi suster aja hehehe” ”Kakak akan jadi ahli matematika juga ?” ”Iya donk...saya kan kuliah biar jago matematika” ”Akan kerja dimana ?” ”Ga tau...yang pasti saya akan kerja yang ada hubungannya sama orang. Jadi, bukan sama komputer...” ”Ooo...” ”Kenapa ? koq kamu nanya gitu?”
Lama sekali Novia berpikir. Dia melempar bola kesana-kemari sambil berpikir (tampaknya). Disaat saya hampir melupakan pertanyaan itu, tiba-tiba dia menjawab. ”Kalo kakak mau kerja mending jangan punya anak. Kalau suami kakak pergi nanti anak kakak temenannya sama anjing”.
Novia mengatakan itu dengan nada serius. Setelah mengatakan itu dia langsung lari sambil berteriak ”besok lagi ya, aku mau mandi ”. Novia tidak pernah begitu. Dia selalu mengantar saya sampai ke gerbang. Dia juga selalu melambaikan tangannya setiap kali saya pulang. Tapi, hari itu benar-benar lain. Sekitar 10 menit saya tidak beranjak dari taman itu. Saya terus bertanya ”kenapa kamu Nov ?”.
Malam harinya saya benar-benar tidak bisa beristirahat dengan tenang. Saya larut dengan pemikiran saya tentang kesendirian. Saya begitu sedih membayangkan jika saya menjadi Novia. Saya yakin, kalau saya tidak akan setegar dia ?. Sejak kejadian itu, saya berjanji pada diri sendiri. Saya akan menyediakan waktu saya untuk berbagi dengan anak-anak yang kesepian. Anak-anak yang mungkin tidak tahu apa-apa tentang jalan hidup mereka. Tidak tahu mengapa mereka menjadi sendiri.
Di akhir tahun 2004 Novia bertanya apakah sebaiknya dia ikut ke Jakarta dengan Maminya. Tanpa banyak berpikir saya langsung menyetujui. Saya katakan bahwa dia pasti lebih tenang jika ada disamping Maminya. Walaupun sejak bayi sudah bersama tantenya, tapi toh dia tidak punya kedekatan personal dengannya. Untuk itu sebaiknya dia mencoba sesuatu yang baru bersama Maminya.
Akhirnya kami memang benar-benar berpisah. Perpisahan kami rayakan dengan acara “smack-down” dan foto-foto. Seharusnya foto-foto itu ada di ponselnya waktu itu tapi mungkin juga sudah hilang. Ketika saya sampai di pintu gerbang rumahnya, dia memeluk saya erat sekali, dia mencium pipi saya kencang sekali. Kalimat terakhir yang dia bisikkan adalah “kakak tuh temenku yang manusia”.
Beberapa bulan setelah perpisahan, kami masih sering berkirim-kirim pesan. Tapi suatu ketika saya mengirim pesan dan tidak dibalas. Beberapa kali saya coba tapi tetap tidak di balas. Ketika akhirnya saya menelepon, saya benar-benar terkejut ketika mendengar suara laki-laki yang sangat menyeramkan. Sejak saat itu saya berpikir kalau HP Novia telah berpindah tangan, entah dengan cara apa.
Entah dimana dia sekarang. Sudah seperti apa penampilannya sekarang. Saya benar-benar kehilangan jejaknya. Tapi walau bagaimana pun, pesannya tentang anak yang sendirian tidak akan saya lupakan. Mungkin menjadi pesan dari banyak anak yang mengalami hal yang sama.
Shock adalah kata yang paling tepat menggambarkan suasana hati saya ketika bertemu dengan Marcel Joshua (MJ). Dia begitu besar dan saya begitu kecil. Padahal dia adalah murid saya. Keadaan yang terbalik.
MJ memang gendut. Badannya jauh lebih besar dari teman-temannya. Ketika pembelian seragam pun, panitia sampai kewalahan mencari ukuran yang tepat untuknya. Keunikannya akan makin terlihat ketika dia tertawa. Yaa, matanya akan tertutup jika dia tertawa. Pernah saya bercanda dengan mengatakan ”ayo Cel kita main petak umpet tapi syaratnya kamu harus ketawa terus, gmn ?”. Mendengar itu MJ malah makin tertawa dan makin hilanglah matanya. Hahaha.
Yang membuat MJ menjadi sosok istimewa adalah kemampuannya menerima keadaan. Setiap kali temannya mengejek atau menertawainya, dia malah ikut tertawa. Tidak jarang, justru dialah yang memulai kekonyolan-kekonyolan tentang ukuran badannya. Tampaknya dia tidak pernah tersinggung untuk ledekan-ledekan itu.
Beberapa waktu lalu MJ dan kelompoknya mendapat tugas drama. Saya melihat mereka sedang membicarakan skenario yang akan dimainkan. Saya sempat bertanya, lakon apa yang akan mereka mainkan. Tanpa pikir panjang, MJ langsung menjawab ”ini tentang kesehatan Bu. Khan awalnya saya sehat, trus saya sakit..muntah-muntah terus...pokoknya terus-terusan, sampai badan saya jadi kaya dia hahaha”, kata MJ sambil menunjuk temannya yang memiliki ukuran badan jauh lebih kecil.
Marcel ternyata punya hobi olahraga. Dia suka sepak bola. Tokoh idolanya pun seorang pemain sepak bola. Namanya Kapten Tsubasa. Ini memang hanya tebakan saya setelah melihatdia menggambar tokoh kartun ini dengan wajah sumringah. Bulan Januari lalu, dia mengikuti kompetisi sepak bola. Posisinya adalah penjaga gawang. Saya melihat ketika MJ bermain, gerakannya memang tidak selincah temannya yang lain. Ketika namanya dipanggil, lama sekali dia baru bisa sampai di gawangnya.
Komentator pertandingan yang juga adalah temannya, cukup senang ketika MJ maju. Komentator itu mengatakan “Nah ini lah dia Marcel, tampak sehat sekali dia....dengan badan atletis bro...hahahaha”. Mendengar itu Marcel langsung tertawa sambil melambaikan tangannya ke arah penonton. Hahaha. Itulah MJ. Hidup MJ!!
Setelah pertandingan, saya sempat ngobrol dengan MJ. Obrolan tak tentu arah yang membuat saya semakin mengenal MJ. “Saya baru tau lho, kalo kamu keeper...” ”Wah, payah juga nih ibu...ckckckc”, kata MJ sambil menggeleng-gelengkan kepala. ”Ternyata kamu oke juga yaaa...” ”Ah, jangan ngeledek gitu donk Bu. Saya kan cuma cadangan...mainnya aja cuma beberapa menit..” ”Lho, jangan salah...kamu tuh hueeebattt. Bayangin, kamu adalah keeper yang belum pernah kebobolan. Kamu bisa menjaga gawangmu supaya tetap bersih !!!” “Bener juga ya Bu ?” Hahahhaha....kami berdua tertawa. Seperti biasa, kalau MJ tertawa matanya akan tertutup lagi.
Mengetahui keadaannya yang berbeda, tidak membuat MJ berpasrah keadaan. Hal ini saya ketahui dari jawabannya ketika saya menanyakan kenapa dia masih tetap gendut padahal sudah rajin olahraga. Dia bilang “ga tau Bu, tapi udah olahrga aja masih gini, gimana kalo ga olahraga ?”. Ternyata dia tetap berusaha supaya tetap sehat.
Kalau sudah begini, saya benar-benar memberi acungan jempol padanya. MJ tidak seperti orang-orang dewasa yang terkadang memilih jalan pintas, minum obat pelangsing ini-itu supaya dianggap langsing, tidak makan ini-itu supaya berat badan tidak meningkat dan lain-lain. MJ mengajarkan saya bagaimana cara mensyukuri keadaan tanpa protes pada keadaan itu sendiri. Tidak hanya menggerutu tapi juga melakukan sesuatu untuk mengubah keadaan. Go MJ !!! Go MJ !! Go !!!
Cerita ini mungkin akan menjadi satu-satunya cerita yang berisi tentang kegagalan. Bercerita tentang anak bernama Toni Irawan. Saya mengenal Toni tahun 2007 di Lampung. Waktu itu dia kelas VII.
Dalam pergaulan Toni cukup aktif. Dia punya banyak teman, mungkin lebih tepatnya dia punya ”gank”. Seperti kebiasaan remaja lainnya yang suka membentuk tim-tim sepermainan. Namun dalam bidang akademik Toni cukup tertinggal. Termasuk dalam pelajaran matematika.
Toni sering mengikuti ulangan perbaikan. Baginya ulangan tanpa perbaikan adalah barang langka. Suatu ketika dia bertanya ”Miss, remedialnya kapan ?”. Padahal saat itu ulangan belum dimulai. Yaa, begitulah keadaannya.
Kewajiban saya sebagai guru adalah membuat murid menjadi lebih pintar. Karena itulah, saya akan mencari cara apa pun yang mungkin bisa membuat murid-murid saya menjadi lebih pintar, termasuk Toni. Di dalam kelas, saya lebih sering mengunjungi tempat duduknya dibanding anak lain. Di luar kelas, saya lebih sering mengingatkan PR kepada Toni dibanding anak lain. Pokoknya, dia saya perlakukan berbeda.
Suatu kali di bulan Ramadhan, kepala sekolah meminta saya mengajar anak-anak khusus di jam khusus.Latar belakangnya adalah bahwa di bulan Ramadhan pelajaran di mulai 7.30 WIB sedangkan di hari biasa di mulai 7.00 WIB. Nah, anak-anak khusus itu tetap belajar mulai jam 7.00 WIB seperti biasa tapi khusus belajar matematika. Saya tidak menolak kebijakan itu.
Maka setiap hari selama bulan Ramadhan, Toni dan 3 teman lainnya belajar matematika di pagi hari. Mereka selalu disiplin. Tidak ada yang mengeluh. Hanya beberapa kali ada yang tidak datang karena alasan bangun kesiangan setelah Sahur.Seingat saya, Toni tidak pernah absen.
Selama hampir satu bulan kami belajar. Menjelang akhir bulan Ramadhan yang tersisa hanya Toni. Saya memang mempunyai kebijakan khusus di kelas khusus itu, yaitu anak yang sudah mencapai kemampuan tertentu, dalam hal ini kemampuan dasar yang diperlukan untuk pembelajaran dikelas, boleh berhenti mengikuti kelas khusus ini.
Menjelang ujian akhir semester genap, saya semakin cemas. Hampir setiap hari saya mengingatkan Toni untuk belajar lebih giat. Saya terpaksa melakukan itu karena saya melihat daftar nilainya di semester itu. Untuk memperbaiki nilai matematikanya, saya sering meminta dia belajar sepulang sekolah walaupun hanya 10-15 menit. Toni selalu menurut. Tidak pernah dia protes tentang itu.
Setelah ulangan umum, setiap anak punya hak untuk memperbaiki nilai-nilai ulangan hariannya. Sampai batas tertentu, mereka boleh meminta ulangan perbaikan kepada guru mata pelajarannya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Toni. Dia menemui saya di hari-hari terakhir itu. Dia juga menemui guru-guru lain karena memang nilainya kacau di semua mata pelajaran.
Pembicaraan terakhir saya dengan Toni terjadi sehari sebelum rapat kenaikan kelas. Waktu itu saya sedang duduk dibawah pohon sambil memperhatikan anak-anak yang sedang mengikuti class-meeting.Toni mendekat sambil tersenyum seperti kebiasaannya di hari-hari biasa. Dia duduk tepat disamping saya.
”Ton, kamu tau artinya standar minimal ?”, tanya saya.
”Hmm...ngga Miss”
“Kalau batas paling jelek ?”
“Ngga juga Miss...”
“Kamu tau syaratnya orang boleh naik motor ?”
“ Tau Miss...harus bisa naik sepeda dulu ? ”
Selanjutnya Toni mulai bercerita tentang pengalamannyabelajar naik motor.Ceritaitu bahkan sampai mengungkap bagaimana awalnya dia bergabung dengan Gank Kutosari, suatu kelompok anak remaja yang sering berkumpul di sore hari di pinggiran saluran irigasi dan melanjutkan tour mereka ke berbagai tempat. Obrolan kami pun kembali ke masalah sekolah.
”Kalau kamu blom lancar naik sepeda, trus saya bolehin kamu naik motor, salah ga saya ?”
”Ga juga sich Miss...tapi nanti pas belajar naik motornya malah repot. Kan blom imbang”
“Kamu bakal marah ga sama saya ? Walopun temen-temen kamu dah naik motor semua ?”
“Paling kesel Miss, tapi ga marah...”
Waktu itu saya memperhatikan Toni dengan seksama. Tidak ada beban di matanya. Dia hanya menjawab apa yang saya tanyakan. Dia juga tidak punya rasa curiga terhadap pertanyaan-pertanyaan saya. Toni memang masih anak-anak. Pemikirannya masih sangat sederhana. Seringkali dia menjadi objek penderita di antara teman-temannya karena dia masih terlalu polos. Tapi, saya tahu bahwa saya memang tetap harus mengatakan sesuatu padanya.
”Ton, saya ga tau apa kamu bakal ngerti maksud saya atau ngga. Saya mau bilang bahwa kadang-kadang kita harus berhenti sejenak dari proses yang berjalan supaya kita bisa mendapatkan hasil terbaik. Untuk mendapatkan hasil terbaik itu, mungkin kita harus mengorbankan waktu tapi kamu harus yakin bahwa pengorbanan itu ngga mungkin sia-sia”
Mendengar ucapan saya, Toni hanya senyum-senyum bingung. Lebih tepatnya cengengesan. Sesaat ada penyesalan karena telah mengeluarkan kalimat itu. Tapi, waktu itu saya memang sudah kehabisan akal. Saya tau berapa nilai matematika yang akan tercantum di rapotnya.
Setelah pembagian rapot saya hanya bertemu sekilas dengan Toni. Dia berjalan bersama orang tuanya sementara saya sibuk dengan pekerjaan saya.Dia sempat tersenyum pada saya. Saya balas dengan senyum paling manis. Itulah saat terakhir kami bertemu...
Di tahun ajaran berikutnya, saya dan Toni sama-sama pindah dari sekolah itu. Toni pindah ke sekolah lain di daerah itu sementara saya pindah ke Tangerang. Kira-kira 4bulan setelah perpisahan itu Toni mengirim SMS pada saya.
”Ini nomer miss sarma ya ? Saya Toni, murid miss yang dulu di Lampung. Miss masa lupa sama saya ? di telepon ga diangkat2.padahal saya susah nyari nomer miss ini.saya mau belajar lagi sama miss.miss kapan kesini lagi? ”
Itulah Toni. Tidak ada dendam di hatinya. Bahkan ketika saya bertanya tentang hal-hal lain melalui SMS, dia menjawab semuanya dengan polos. Jawaban-jawaban itulah yang kembali memberi saya kekuatan dalam melaksanakan kebijakan-kebijakan yang saya buat. Maklum saja, setelah peristiwa yang di alami Toni itu, saya cukup terpukul karena merasa menjadi penyebab gagalnya seseorang. Saya butuh waktu lama untuk menganalisa apakah kebijakan yang saya buat benar-benar bermanfaat atau tidak. Tonilah yang kembali menumbuhkan rasa percaya diri saya. Untuk alasan itu, Toni benar-benar menjadi motivator saya.
mau latihan buat ulangan ??? boleh,,,,ini nih soal ulangan tahun lalu....agak jadul, tapi karena gurunya masih sama, maka soalnya pun masih mirip lah hehehehe.... klik disini : Soal Latihan Ulangan Bab VII SMP Katolik Ricci II... selamat belajar...